|
Senin, 13/02/2012 14:47 WIB - Achmad Rouzni Noor II - detikinet Jakarta - Unreg massal SMS Premium yang dititahkan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) tidak bisa serta merta dijadikan alasan oleh para operator sebagai anjloknya pendapatan mereka.
Sebab menurut Heru Sutadi, anggota BRTI, porsi pendapatan rata-rata dari konten premium hanya 7% dari total pendapatan keseluruhan operator.
"Unreg SMS premium jangan dijadikan alasan mempengaruhi kinerja perusahaan. Kecuali operator tidak jujur dimana sesungguhnya pendapatan layanan premium di atas angka 7% yang disampaikan," sesalnya saat dikonfirmasi detikINET, Senin (13/2/2012).
Keluhan tentang anjloknya pendapatan operator terkait dihentikannya SMS Premium pernah disampaikan oleh Telkomsel saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Komisi VI DPR RI.
Seperti diketahui, 14 Oktober 2011 lalu BRTI menerbitkan Surat Edaran bernomor 117/2011 kepada 10 operator telekomunikasi tentang deaktivasi atau unreg massal untuk seluruh layanan konten premium, di luar layanan perbankan.
Setelah unreg massal diberlakukan, sejatinya operator masih bisa menyelenggarakan konten premium, namun layanan ini sudah kadung anjlok citranya di masyarakat. Alhasil, industri konten pun ikut tergerus 90% lebih pemasukannya.
Panja Pencurian Pulsa Komisi I DPR RI pun mengaku, masih menemui sejumlah penawaran SMS premium yang berpotensi mencuri pulsa masyarakat.
Pada akhirnya, ada permintaan dari Komisi I untuk memperpanjang 'hukuman' dari kelalaian penyelenggaraan layanan ini sampai adanya regulasi yang jelas dan tegas mengatur industri ini agar bisa melindungi masyarakat pengguna.
"BRTI sendiri masih menunggu proses Panja, terutama masukan Panja dan stakeholder terkait regulasi SMS premium ke depan," kata Heru.
Menurut dia, BRTI telah melakukan upaya untuk melindungi masyarakat pengguna dengan melaporkan masalah ini ke Mabes Polri, serta memberi peringatakan ke operator dan penyedia content provider (CP).
"Hanya tinggal perbaikan regulasi. Kita mau, tidak ada lagi istilah pencurian pulsa masyarakat melalui SMS premium ke depan. Tapi memang industri konten juga harus tetap jalan," pungkas Heru.
(rou/ash)
|
Hindarilah kata-kata yang kurang sopan sehingga kenyamanan kita bersama selalu terjaga.